by

Gadis Payung di Sirkuit, Siapa yang Untung?

-PITSTOP-215 views

ARISSANDRO ARIS tertegun sejenak. Dari ratusan pebalap, tatapannya hijrah ke tiga perempuan berdandan minimalis kekinian di ujung pentas kehormatan yang sedari tadi menjawab panggilannya dengan teriakan protes.

“Perwakilan gemuk manis (Gemmuack Manis Racing Team-red) silahkan mendekati podium untuk menyerahkan tropi dan hadiah kepada para juara,” ucapnya lagi melalui pengeras suara, sembari melontarkan senyum pertanda mafhum.

top

Master of ceremony (MC) kondang asal Sarolangun Jambi —saat dititah memandu laga final dan seremonial pembagian tropi Road Race Championship (RRC) Kapolres Cup 2019— ini diprotes tiga gadis payung yang merasa “tidak rela” disebut gemuk, meski maksud Arissandro adalah GMRT penyelenggara event.

Hari itu, Minggu (29/12), hampir selusin gadis payung dilibatkan dalam kejuaraan penutup tahun di Sirkuit Permanen Padang Panjang, Bengkulu Selatan. Mereka sengaja didatangkan penyelenggara guna “menghias” sekaligus membantu mengawal kelancaran event.

Gadis Payung
Gadis payung di garis start. Dituntut tetap memajang senyum di tengah kepungan asap knalpot dan tekanan sinar matahari.

Begitulah gadis payung, berada di tengah ratusan pebalap berkostum sangar menjadikannya punya andil tersendiri sebagai pemanis di lintasan balap.

Meski teror cemoohan —hingga dianggap sebagai pelecehan kaum hawa— tak jarang menghampiri profesi ini, namun umbrella girl tetap dibutuhkan dan memegang peran penting bagi lancarnya balapan, di samping memberi kemudahan penempatan konten sponsorship di kostum mereka.

Belum bisa dipungkiri, mayoritas penonton —umumnya kaum adam— hanya akan melihat sekilas para pebalap —saat sudah terbungkus wearpack dan helm bertempelan aneka stiker sponsor— di garis start, selebihnya akan lebih melekatkan pandangan kepada deretan gadis pembawa payung yang berdiri nyentrik di sisi pebalap. Ini bisa berlangsung lebih lima menit setiap race.

Perhatian penonton baru akan kembali beralih kepada pebalap menjelang bendera start dibentangkan, seiring gadis payung merangsek keluar sirkuit.

Luasnya bentang sirkuit menjadikan pemasangan banner tidak efektif, sementara obyek paling menarik pada titik konsentrasi penonton terpadat —dekat garis start— didominasi gadis payung. Dua hal ini memotivasi para sponsor kebut-kebutan menyiapkan kostum —memuat merk dagang mereka— untuk dikenakan gadis payung. Biasanya, branding posisi ini dipegang sponsor utama.

Gadis Payung Penjaga Bendera Start
Kadang, gadis payung juga dilibatkan mengawal bendera start/finish.

Asal-muasal keterlibatan gadis payung di segenap ajang balapan memang sulit dipastikan. Tercatat, Rosa Ogawa adalah gadis payung pertama di dunia. Dia ditugaskan membagikan hadiah kepada para pemenang kejuaraan balap motor di Jepang, sekitar akhir era 60-an.

Melibatkan perempuan cantik selevel Race Queen —julukan yang melekat pada diri Rosa— saat pembagian hadiah kemudian ditiru banyak penyelenggara balapan di negeri itu, disusul negara-negara lain dengan sebutan mirip, seperti pit babes atau grid girls (UK dan Eropa), pretties (Thailand), atau racing model (Korsel).

Situs RideApart merilis, peran gadis payung sebagai duta produk tertentu setidaknya baru dimulai sejak Hawaiian Tropic menghadirkan gadis-gadis berbikini dalam event balapan Le Mans 24 Hours di Prancis guna mempromosikan produk sun block mereka, pada 1983.

top